Si Hina Bersaudara

Karangan ini saya buat untuk memenuhi tugas dari mata kuliah kewirausahaan. Selamat membaca!

   Pada suatu hari ada 3 bersaudara yang bernama Polulu, Polo, dan Pawela di negara Winxylvenia. Mereka sangat miskin, rumah mereka terbuat dari kayu yang mereka kumpulkan dan atapnya terbuat dari daun besar yang mereka temukan di dalam hutan. Mereka mengasingkan diri dengan tinggal menjorok ke arah hutan menjauhi kota dari para warga Winxy yang sangat angkuh dan selalu mengucilkan mereka. Miskin, gembel, anak pencuri, dan kasta rendahan adalah cibiran yang biasa mereka dengar dari para warga Winxy.
 
   Pawela yang feminim seringkali bermimpi memiliki sayap yang berkerlap-kerlip dan baju-baju bangsawan yang cantik, yang tentunya dimiliki oleh para gadis bangsawan dari kota. Polo sering memarahi Pawela karena mimpi-mimpinya yang menyebalkan itu, tidak mungkin baginya Pawela dapat memiliki semua itu karena mereka terlalu miskin dan hina. Ayah dan Ibu mereka waktu dulu bekerja di kerajaan pada zaman Raja Molevy I, namun mereka dituduh mencuri barang-barang kerajaan, sang Raja sangat marah dan memerintahkan para Peri Mulia untuk mencabut sayap mereka, dimana di negara itu orang-orang yang tidak memiliki sayap adalah orang yang paling hina. Bagaimana cara mendapatkan sayap? tentunya dengan keping emas yang berjumlah banyak, kecuali bagi kebanyakan orang dari warga Winxy yang seorang bangsawan turunan dan memiliki sayap sejak lahir.

   Berbeda dengan Polo, Polulu selalu mendukung mimpi-mimpi Pawela, ia selalu bilang bahwa ia akan bekerja keras dan optimis mendapatkan keping emas yang banyak agar kehidupan mereka menjadi lebih baik, tidak memusingkan bagaimana semua orang memandang mereka rendah. Polo yang pesimis tidak pernah mau ikut Polulu ke kota untuk berjualan daging kelinci mot-mot ataupun kayu bakar, bahkan membantu Polulu untuk berburu kelinci mot-mot pun hampir tidak pernah, padahal untuk memburu kelinci tersebut sangat sulit karena mereka lebih gesit dibanding kelinci biasa. Karena munculnya kelinci mot-mot hanya jarang-jarang, maka jika menemukannya sungguh suatu kesempatan yang harus dimanfaatkan bagi Polulu dengan menjualnya di toko daging pinggir kota. Beruntung ucap Polulu dalam hati, ia bersyukur sang pemilik toko daging masih bersikap baik pada Polulu karena menerima daging kelinci buruannya walaupun hanya dihargai 1 keping koin perak, dilain sisi diam-diam sang pemilik toko mencibirnya karena pakaiannya yang lusuh dan tak layak.

   Di sisi lain Raja Molevy II sangat menyukai sup bawang daging kelinci, ia sering memuji kualitas daging kelinci yang selalu dimakannya, sampai-sampai ia mendatangi sendiri toko daging dipinggir kota, bahkan memberi sang pemilik toko 3 keping koin emas untuk satu daging kelinci. Sang pemilik toko daging berujar bangga kepada sang Raja, bahwa daging kelinci yang dimakannya adalah daging kelinci mot-mot yang sangat sulit ditangkap, bahkan si pemilik toko daging menceritakan usaha gigihnya untuk memburu kelinci tersebut dan dengan hormat didedikasikan untuk sang Raja Molevy II. Nasib berkata lain, kali ini prajurit kerajaan mendatangi toko daging pinggir kota atas perintah dari Raja, si pemilik toko daging dibawa paksa ke kerajaan.

   Ternyata daging kelinci mot-mot yang dimakan kali ini mengandung racun yang berasal dari tanaman asterp, diduga kelinci mot-mot memakan tanaman tersebut sehingga racun dari tanaman tersebut menjadi terkandung di dalam daging kelinci mot-mot, alhasil membuat sekujur kulit sang Raja melepuh. Raja sangat marah karena si pemilik toko daging berbohong kali ini dengan kualitas daging mot-motnya. si pemilik toko daging menangis dan memohon, ia berteriak bersumpah bahwa yang memburu daging kelinci mot-mot kali ini adalah si hina bersaudara, yakni Polulu, Polo, dan Pawela. Akhirnya Raja memerintahkan prajuritnya untuk membawa ketiga bersaudara itu.

   Sesampainya di kerajaan, Polo sangat marah karena mereka sudah mengasingkan diri dari kota bahkan bersosialisasi dengan orang kota pun tidak, kenapa fitnah seperti ini dapat ditujukan kepada mereka. Pawela mengusap bahu Polo dengan sabar, dan menenangkan saudaranya bahwa semua pasti ada jalan keluarnya. Dengan berani Polulu mengaku bahwa daging kelinci mot-mot itu adalah hasil buruannya, ditambah bukan kali ini saja, tapi setiap daging yang dijual oleh si pemilik toko daging adalah hasil buruannya yang hanya dihargai 1 keping koin perak. Raja yang mendengar itu kaget, karena ia membayar lebih untuk si pemilik toko daging. Polulu meyakinkan sang Raja bahwa ia tidak ada maksud sama sekali untuk melukai sang Raja sekecil apapun lukanya, jika harus membayar kerugian ia akan membayarnya dengan semua koin perak yang sudah dikumpulkan olehnya, karena harta berharga yang tersimpan di rumahnya hanyalah koin perak.

   Dengan melihat kesungguhan dari Polulu, Raja sangat menghargai kejujurannya, ia bahkan rela diambil semua hartanya jika memang ia bersalah. Sang Raja tidak jadi menghukum ketiga bersaudara itu, ia menjatuhkan hukuman cabut sayap kepada si pemilik toko daging atas kebohongan-kebohongan yang sudah keluar dari mulutnya. Tidak seperti ayahnya sang Raja Molevy I, Raja Molevy II memberi kesempatan kepada tersangka untuk membela dirinya. Raja lalu memerintahkan Peri Mulia untuk memasangkan sayap kepada Polulu, Polo, dan Pawela. Dengan sopan, Polulu meminta kepada Raja untuk memberi ijin ia membayarnya dengan koin perak yang sudah ia kumpulkan, hal ini adalah salah satu hal yang sangat berharga baginya karena ingin mewujudkan impian Pawela dengan kerja kerasnya. Diterimalah koin-koin perak yang jumlahnya sangat banyak itu, dan dipasangkan sayap-sayap itu kepada Polulu, Polo, dan Pawela. Polo memeluk Polulu meminta maaf dan merasa malu karena selalu berputus asa dengan keadaan mereka sebelumnya. Tidak hanya dipasangkan sayap oleh Raja, Raja pun meminta Polulu untuk menjadi penasihat kerajaan, Polo menjadi pengantar surat, dan Pawela menjadi pelayan sang Ratu Kerajaan. Dengan itu kehidupan mereka menjadi jauh lebih baik, dan Winxylvenia menjadi negara yang ramah semenjak Polulu menjadi penasihat kerajaan dan loyal kepada Raja Molevy II.

- Tamat -


Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita fiksi yang saya karang ini adalah untuk selalu optimis seburuk apapun keadaan yang kita alami, jika pesimis yang selalu ditanam didalam mindset maka tidak akan pernah merubah apapun. Tidak lupa untuk selalu giat berusaha dan bersungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan dan bermanfaat, Bersikap jujur, tidak menaruh dendam, tidak juga memusingkan apa kata orang lain yang buruk entang kita karena hanya kita yang paham diri sendiri, dan tidak menghamburkan uang sembarangan. :)
 



   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hamzah Izzulhaq Menjadi Direktur Utama PT Hamasa Indonesia Di Usia Muda

Seputar Manajemen Keuangan Usaha

Business Plan